10
Nov
09

Jangan Cengeng!

Listrik mati

Banjir email kantor

Kejar laporan ini

Kejar laporan itu

Susun jadwal kunjungan

Set tanggal pertemuan

Hubungi mitra disana dan disini

Persiapkan exit strategi

Bikin rencana tahunan

Bikin dokumentasi program

Ini-itu-ini-itu….

 

Trus, kapan saya bisa mengurus kebutuhan saya?

Kapan saya bisa menikmati weekend saya?

Kapan saya bisa ambil cuti saya?

 

Hahahaha, hei manusia tolol

sudah kau gadaikan waktumu untuk kerja dunia

Jangan cengeng, jangan menangis

Seharusnya kau bersyukur

Ada tugas berarti ada kerja

Ada kerja berarti ada gaji

Ada gaji berarti ada rejeki

Apa lagi yang kau keluhkan

Diantara banyak manusia yang masih kesulitan untuk makan

Kau mengeluh bosan saat tidak ada kegiatan

Kau mengeluh capek saat banyak kesibukan

Itu namanya tidak bersyukur

 

Saya terdiam

tetap diam

Diam

Dan

lakukan

semaksimal mungkin

sebaik mungkin

kan sudah berjanji

kan ingin berbakti

bagi nusa dan bangsa 

(huh sok nasionalis loe!!  hati kecil saya mengejek)

tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain

BERGERAK!!!!!

—- Arggghhhhh…. stress dot com!

 

 

09
Nov
09

Listrik Padam, PLN ditimpuk

Sekarang ini masalah akan timbul jika listrik padam, berbeda dengan seratus tahun yang lalu tanpa listrikpun gerak di tingkat rumah tangga tidak mengalami efek yang berarti.  Listrik bagi ibu rumah tangga menjadi barang wajib, mau masak nasi, mencuci pakaian, nyetrika, butuh air bersih, menyimpan bahan makanan di kulkas, semuanya disuplai oleh listrik. Jadi sudah tidak terbatas lagi hanya menjadi kendala di kantoran atau pabrik-pabrik. Karena itu ga jarang masyarakat sangat emosi jika terjadi pemadaman listrik.

Satu minggu belakangan di Ternate listrik mati memanjang sekitar 6 jam perhari, walaupun dibagi di beberapa zona yang berbeda. Dan PLN tidak bisa memberikan pelayanan publik yang baik saat pemadaman, dalam artian petugas penerima komplain bisa memberikan penjelasan yang menenangkan jika listrik padam.  Alih-alih dapat pencerahan, malah tensi jadi naik dengar jawaban bodohnya.

Bagi saya pribadi yang mengalami pemadaman listrik di siang hari di waktu kerja, lumayan terganggu juga. Kami hanya bisa bekerja dengan kekuatan batre laptop yang rata-rata hanya 3 jam, ditambah kesulitan untuk print file, walhasil banyak bengong gila. Akhirnya setelah sempat nyemprot petugas PLN, kami pun pasrah untuk bekerja lembur.  Sayang niat baik untuk bekerja sampai malam dihancurkan oleh PLN yang dengan tenangnya mematikan aliran listrik lagi mulai jam 7. Emosi naik sampai ke ubun-ubun, sumpah serapah pun keluar, dan terpaksa membawa pekerjaan pulang ke rumah. Tapi apa daya, sampai di rumah baru juga bersiap-siap untuk bekerja tiba giliran pemadaman, rasanya jadi pengen nampol orang deh. 

Untuk area tempat tinggal saya puncaknya terjadi hari sabtu dimana listrik dipadamkan mulai jam 5 sore sampai tengah malam baru manyala. Ok, jika saya saja sudah terganggu dan pengen nampol orang, entah apalagi perasaan masyarakat kota ini yang cukup keras. Dugaan saya akan terjadi penimpukan ulang seperti yang terjadi saat pemadaman di bulan puasa duu. Daaaan……. tebakan saya benar sekali, berita hari minggu kantor PLN ditimpuk batu oleh masyarakat dari berbagai arah, bukan hanya kaca kantor, mobil dan motor yang ada di halamanpun menjadi korban.

Memang nimpukin PLN bukan tindakan yang baik, dan menimbulkan kerugian materi yang banyak. Tapi,… kenapahari ini di kantor listrik belum dapat pemadaman. Nah lo, masa’ sih mesti ditimpukin dulu baru berusaha? Walaupun benar bahwa alasan pemadaman itu karena mesinnya yang rusak, tapi apakah tidak ada petugas yang mengurus mesin. Dan kalau rusak, bikin planning yang bagus dong untuk perbaikannya. Jangan hanya memperbaiki yang rusak saja, tapi harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dan juga, daripada rusak-rusak terus, apakah tidak bisa investasi beli mesin baru gitu? dari pada ngeluarin biaya juga untuk reparasi? Betul-betul mengherankan kinerja sebuah perusahaan negara yang bernama Indonesia.

Sebenarnya mesin kan juga punya masa efektif kerja. Saat pertama membeli tentu sudah bikin perhitungan dong kapan akan memerlukan perbaikan, kapan akan perlu pembaruan, berapa kapasitas yang mampu ditanggung. Kalau ada planning yang bagus seperti itu dan petugas yang bertanggung jawab saya kira tidak akan terjadi krisis listrik seperti sekarang ini.

Makanya bapak-bapak di hrd/bag kepegawaian dll yg bekerja di pelayanan masyarakat, rekrut lah orang yang punya kemampuan dan ketrampilan, bukan sekedar kedekatan atau karena faktor-faktor lain. Kata hadist: Serahkan pada ahlinya, (jangan sama yang nyogok!). Suara masyarakat itu sadis lho, dan kalau sudah ditimpukin batu beberapa kali mestinya belajar gitu supaya masyarakatnya ga mau nimpukin lagi.

Dan walaupun tau tindakan penimpukan itu tidak bisa disetujui, kok saya merasa kejengkelan saya jadi sedikit berkurang, hehehehehe….

06
Nov
09

Berita di TV

2 hari terakhir saya menjadi orang normal Indonesia karena bisa nonton TV. Karena di hotel disediakan TV, ya sudah ditonton saja, biar ga mubazir. Tapi beritanya ternyata membosankan. Apalagi kalau bukan masalah persidangan Cicak lawan Buaya itu dan segala pernak-perniknya.

Sebenarnya masalahnya tidak sederhana dan sangat bagus diketahui masyarakat banyak untuk penegakan hukum. Sayangnya dramatisasi stasiun TV kebangetan, walhasil bikin malas nonton. Berita pagi = berita malam sama saja, bahkan berita itu diulang beberapa hari tanpa ada informasi baru. Acara bincang-bincangnya juga sama saja, diulang beberapa hari.Yang bikin nebih bikin malas nonton, adalah kesamaan berita di semua stasiun TV. Kok ga ada yg lebih kreatif, atau wartawan cari scoop gitu, kan seru kalau punya berita lain dari yang lain.

Jadi lepas dari jenis beritanya, untuk berita-berita seperti kasus KPK ini rasanya lebih enak diikuti di media cetak saja deh, lebih kaya info dan sering diliput dari berbagai sisi. Mungkin lebih lambat, tapi ga ngefek kan karena berita TV juga diulang-ulang. Hal ini yang makin memantapkan saya bahwa TV itu tidak berguna dan bisa disingkirkan dari kehidupan kita ~ maaf ya, promo sedikit.

02
Nov
09

Kehebatan pelaut

Bagi seorang pelaut yang handal, tidak ada bedanya berdiri diatas daratan atau di atas air. Kehebatan seorang pelaut termasuk mahir membaca jalur ombak maupun memperbaiki mesin disaat kapal sedang melaju, dan tentu saja tidak pernah mabuk laut. Bayangkan kalau seorang nakhoda baru duduk di belakang kemudi, langsung mual-mual ketika ombak menerjang. (Yee… ga mungkin banget tentunya).

Saat ke mengelilingi perairan Sula beberapa saat yang lalu,  speed boat yang kami tumpangi sempat mengalami kerusakan baling-baling (propeller) sampai 3 kali.  Dan kerusakan yang keduakali terjadi di tengah-tengah perjalanan, diantara pantai-pantai tak berpenghuni sehingga tidak ada yang bisa disinggahi untuk memperbaikinya. Saat itulah kami menonton pertunjukan seorang pelaut berpengalaman. Si pak motorist (=supir motorboat)  berusaha memperbaiki mesin yang tengah melaju di atas ombak dengan keseimbangan yang luar biasa, diatas laut!!!  Saya dan bapak bule yang melakukan perjalanan hanya bisa takjub melihatnya memperbaiki mesin dengan santai seolah-olah sedang ada di daratan. Tidak ada kecanggungan sama sekali, semua gerakan mantap.

Pelaut 2Pelaut 1

Ga kebayang kalau saya harus duduk memperbaiki sesuatu diatas laut seperti itu. Yang ada juga…. kecebur!!

Semua foto itu saya culik dari kameranya pak Bule, karena dengan bodohnya saya lupa memasukan kartu memory ke dalam kamera sebelum berangkat. Bayangkan betapa banyaknya pemandangan indah yang terlewat gara-gara itu. Pak Bule sendiri hanya berbekal dengan kamera pocket dan tampaknya tidak begitu tertarik mengambil foto-foto pemandangan indah, mungkin karena dia terlalu sering datang ke daerah-daerah yang eksotik. Hmmm…

24
Okt
09

Adventure in Sula Islands

Serial “Adventure in…” karya Enid Blyton itu merupakan bahan bacaan saya. Tokoh-tokohnya yang anak-anak mahir berlayar mengarungi lautan dan selalu bertemu dengan petualangan yang menegangkan untuk ukuran anak kecil. Semangat petualangan itu ternyata belum padam di jiwa saya yang sudah menua, sehingga kesempatan untuk travel memantau kegiatan di kab kepulauan Sula dengan senang hati saya terima.

Lagu “nenek moyangku orang pelaut” menggema di telinga saya saat mengarungi laut dari pulau SULABESI ke pulau TALIABU dilanjut ke p. MANGOLE dan berakhir kembali di Sanana ibukota dari p. Sulabesi. Kapal motor pinjaman dari puskesmas sudah dibekali beberapa galon bahan bakar, cukup untuk perjalanan ke 3 pulau itu. Yeah, saya menemukan kembali romantisme pulau-pulau tropis dengan laut membiru, matahari bersinar terik dan pasir putih.

Ombak berdebur di tepi pantai, pemuda brani bangkit semua ke laut kita bersama-sama

Sepenggal lirik itu terngiang di telinga saya sementara angin mempermainkan rambut. Perahu melaju kencanng menuju desa-desa disana.

deserted island

 

 

 

Pantai di Sula

Kendaraan kami

 

Jangan harap ada dermaga di setiap desa yang dikunjungi, kami praktis melompat ke dalam laut setiap kali mendarat. Dan ketrampilan lebih tinggi dibutuhkan saat akan melompat naik lagi ke dalam perahu motor. Pertama-tama, rekan-rekan seperjalanan ada yang suka membantu memegang tangan saya, tapi ketrampilan memanjat dan naik-turun ke kapal rupanya tidak buruk juga, sudah agak-agak miriplah dengan ketrampilan monyet.

Dan ombak dan gelombang juga lumayan keras, sehingga membuat perjalanan lumayan memancing adrenalin. Kora-kora di Dufan lewat sudah.  Hmm… punya banyak bahan cerita deh. (disambung lagi)

19
Okt
09

Beat the bush

Sudah lama tidak melakukan perjalanan ke tempat-tempat yg terpencil, saya merasa bahwa naluri petualangan saya sudah lenyap. Tapi setelah membuat rencana perjalanan ke kab Kepulauan Sula, semangat saya tiba-tiba muncul. Untuk mencapai Sanana, ibu kota Sula memakai pesawat udara yang hanya ada seminggu 3 kali atau dengan kapal malam yang jadwalnya seminggu 2-3 kali (tidak tentu). Tapi Sanana ada di satu pulau dan wilayah lain yang terpencil namanya Tali Abu…( wihihihihi…mendengar namanya saja yang terbayang adalah daerah gersang penuh debu) ada di pulau lain, yang berarti harus mengubah moda perjalanan dengan menggunakan boat. 4 hari disana diharapkan bisa mengetahui beberapa situasi berkenaan dengan rencana pembuatan proposal baru.

Pertanyaan pertama: baju apa yang sebaiknya dibawa? Sepertinya cukup dengan T-shirt dan jeans.

Pertanyaan kedua: perlu bawa laptop ga? Sepertinya ga perlu, biarkan saja dah daripada berisiko kena air dsb…dsb…

Lebih baik bawa buku saja dan belajar untuk ujian ielts, lumayan kan. Jangan lupa bawa senter, sebagai jaga-jaga ga ada genset. Plus jangan lupa beli persediaan coklat (huahahaha) buat camilan sekaligus meningkatkan mood. Dan biarpun berisiko kamera harus dibawa, kapan lagi bisa kesana?

Mudah-mudahan tidak ada masalah selama di perjalanan.

Let’s beat the bush, my friend!

15
Okt
09

Hectic banget

Me so busy, so hectic… halah… istilahnya keren bukan? Akhir-akhir ini memang nyaris tidak bisa bersantai, jadwal yang padat tidak memungkinkan untuk mengurus urusan pribadi. Tapi kalau urusan itu ditunda-tunda, ga akan ada hasilnya. Dengan terpaksa mencuri-curi waktu di tengah kegiatan yang padat ini untuk sekedar membereskannya.  Walaupun policy lembaga jelas sekali menyarankan untuk hidup seimbang untuk stafnya (dengan menyarankan untuk mengambil annual leave secara berkala dan bukan menumpuknya), pada prakteknya sulit sekali bisa meluangkan waktu untuk cuti.

Apakah akibat saya tidak bisa memanage waktu dengan baik? Rasanya bukan karena itu, tapi akibat beberapa kegiatan yang bentrok waktu pelaksanaannya. Saya memang menangani beberapa proyek yang berbesa,  sedangkan pelaksana ga punya kepercayaan diri untuk melakukan sendiri. Dilema juga, kalau pelaksana dipaksa melakukan sendiri berakibat outcome proses kurang baik, tapi kalau selalu didampingi jadi tidak ada waktu untuk pribadi. Udah jadi seperti workaholic dan membuat orang-orang menyindir saya sok sibuk. Hiks… padahal saya juga ingin lho menikmati weekend yang santai.

Satu-satunya waktu relaks adalah menulis blog disela-sela kerja untuk mengeluarkan unek-unek saja. Daripada bete dan memberikan aura negatif. Mengeluarkan unek-unek itu mirip dengan gas di lumpur Porong, tadinya dianggap tidak berguna tapi akhirnya bermanfaat. Karena harga gas 12 kg meningkat tajam akhirnya ada kreatifitas memanfaatkan gas lumpur porong sebagai bahan bakar. jadi marilah kita ramai-ramai pindah ke Porong… Lho??

Tapi orang Indonesia itu sebenarnya sangat gemar bekerja. Ga percaya? Lihat deh untuk 34 posisi mentri dilamar oleh 100 peminat. Huahahahaha… sampai-sampai dikeluarkan istilah audisi. Seperti artis cari pekerjaan saja pakai audisi. Kenapa sih ga dipakai istilah konsultasi atau wawancara kerja gitu? Kan berkesan lebih serius. Terus audisi mentri itu akan seperti apa ya? Saya membayangkan acaranya seperti American Idol, mungkin stasiun2 TV seharusnya segera membeli hak siar untuk audisi itu, sepertinya akan sama menariknya dengan audisi American Idol. Dan dengan dibeli hak siar oleh stasiun TV tentunya akan bisa menutup biaya audisinya. Lumayan kan??? Lebih bagus lagi kalau ada beberapa calon yang bisa melakukan performance, dan masyarakat ikut mengirimkan sms ketik Mentri spasi A dan kirimkan ke 6666. 

Padahal menjadi mentri di Indonesia itu kan banyak urusannya. Wah saluut-saluut *dengan nada super nyinyir*. Mudah-mudahan para mentri itu bisa mengalami masa kerja se-hectic saya… Lumayan banyak temen workaholic deh. 

terakhir di tulisan ini, saya ingin usul kalau pengen bikin kata dengan au, mbok istilah yang dipakai itu audiensi jangan audisi. Kata pertama berkesan seorang pemimpin berniat mendengarkan isi otak calon anak buahnya, sedangkan audisi yang kebayang orang jingkrak-jingkrak atau nyanyi fals.  

“heh, stop sudah itu moncong!” *hati nurani saya sudah menghardik*

Jadi…..Mangga atuh, Vaya con dios, adios -parantos-permios…..!

Terjemahan:

Mangga atuh (sunda) = yuk mareee….

Vaya con dios (spain)= see you later (??? kalee…)

Adios (spain) = good bye

Parantos (sunda) = selesai

Permios (sunda) = permisi

09
Okt
09

Tetangga kita Malaysia

Negara tetangga kita Malaysia, akhir-akhir ini sering membuat jengkel Indonesia. Klaim atas angklung, batik, reog ponorogo dan tari pendet sebagai bagian warisan budaya Malaysia telah menyulut emosi dari masyarakat Indonesia. Belum lagi upayanya untuk mengklaim pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan Indonesia sebagai bagian dari wilayahnya. Tidak kurang rumor yang mengatakan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang akan membawa bambu runcing memerangi malaysia setelah beberapa klaim itu. Sungguh perilaku yang kekanak-kanakan dan menggelikan dari bangsa kita. Tidak kurang juga kita dengar romantisme dari golongan tua yang mengatakan bahwa intelektual Malaysia dahulunya banyak yang sekolah di Indonesia sekarang seperti kacang lupa pada kulitnya. Apa yang bisa kita perbuat selain mengejek nama malaysia dengan berbagai istilah tidak etis. Mungkin kita perlu bersikap lebih dewasa lagi dalam merespon kelakuan negara tetangga yang kurang etis, bukannya dengan memberikan nick name yang kurang baik atau melakukan demo yang tidak sepantasnya juga.

Kenapa saya berfikir seperti ini? Sebetulnya tadi pagi saya sedang mencari-cari bahan penelitian berkait dengan pekerjaan saya dan berakhir dengan pertanyaan faktor-faktor apa yang menyebabkan tingkat kesehatan di Malaysia bisa maju pesat. Apakah kita bisa menirunya di Indonesia?

Malaysia sejak pencanangan deklarasi Alma Alta di th 1978 telah berhasil mencapai health for all di tahun 2000 (tepat waktu), sementara di Indonesia sampai 2010 pun kemajuan kita tetap kurang baik. Padahal dasar dari pelayanan kesehatan di sana adalah Primary Health Care yang identik dengan pelayanan Puskesmas di Indonesia, di beberapa daerah yang sulit dijangkau mereka melakukan pelayanan melalui Village Health Promoters yang tampaknya setara dengan kader (karena bukan tenaga kesehatan).  Hasilnya tercapainya target indikator kesehatan. Saat ini di malaysia MMR sekitar 41 per 100.000 penduduk dibandingkan dengan Indonesia yang masih diatas 200 per 100.000 kelahiran hidup atau untuk negara maju sebanyak 6 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi hanya 18 per 1000 kelahiran hidup dibandingkan Indonesia yang masih 27 per 1000 kelahiran hidup. Pencapaian ini membuat Malaysia termasuk negara dengan angka kematian ibu yang rendah.

Padahal Indonesia juga ikut menandatangani perjanjian Alma Alta di tahun 1978  tapi….? Pertanyaan saya apa faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia begitu sulit untuk diajak maju bahkan untuk keuntungan diri mereka sendiri (hidup sehat) dan apa yang bisa membuat masyarakat Indonesia bisa mengubah perilaku (termasuk didalamnya mengubah kualitas pelayanan kesehatan dasar).  PR ini cukup membuat saya pusing kepala

08
Okt
09

Ichigo Ichi

“Ichigo Ichie” adalah istilah bahasa Jepang, secara kasar bisa dikatakan “momen yang tak terulang lagi”.  Ternyata ada yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris “There may never be another time like this one”. Yang berarti kita harus bisa menikmati setiap momen dalam kehidupan ini. Contoh gampang untuk yang mempunyai anak yaitu sehari saja tidak bertemu anak yang berada dalam masa pertumbuhan, maka momen itu tidak pernah terulang kembali.

Salah satu maknanya juga kita harus mensyukuri momen demi momen yang terlewat dihadapan kita, yang sering dengan mudahnya kita lupakan. Jadi kita harus bisa menikmati saat muda dan beranjak tua dengan elegan. Kalau bisa sih, jangan sampai waktu kita terbuang percuma sebenarnya. 24 jam dalam sehari, 60 menit dalam sejam, 60 detik dalam semenit, tak ada yang akan bisa terulang. Sehingga jangan sampai juga kita melewatkan kesempatan satu-satunya dalam hidup (diterjemahkan dalam berbagai aspek).

Memang tidak mudah untuk menerapkan itu, yang terpenting kita bisa belajar dari masa lalu, memaafkan masa lalu dan tidak mengulanginya lagi bukan. Tetap optimis dan punya harapan, ichigo ichi, seize the day.

03
Okt
09

Murka Alam Raya

Tanpa diperkirakan sebelumnya Sumatra Barat pun diobrak-abrik oleh gempa. Nyawa melayang dan bangunan bertumbangan. Jika alam berkehendak beton setebal dan sekuat dibuat akhirnya ambruk juga.

Gempa di Jawa Barat beberapa saat sebelumnya rupanya hanya menu pembuka untuk bencana yang lebih besar lagi. Sungguh, saya jadi teringat dengan komentar Pailul di dalam komik Panji Koming, “alam murka, alam bersabda”.

Dan kita sebagai manusia tidak henti-hentinya mencederai alam. Kita hancurkan budaya nenek moyang berumah papan dan bambu dengan membuat bangunan dari beton. Kita keruk gunung-gunung untuk mencari bahan semen dan kawan-kawannya dalam membuat gedung-gedung tinggi dari beton. Kita babat lahan dan tumbuhan untuk dibangun hutan beton. Kita lupa bahwa daratan kita berada di pertemuan dua lempeng besar dunia, berada di 2 rantai pegunungan berapi yang masih aktif di dunia. Kita lupa secara geografis tanah yang kita injak ini selalu dan selalu bergeser dan saling bertumbukan setiap hari. Kita ingin kota-kota kita menjadi seperti kota-kota maju di negara lain.

Alam hanya melakukan perintahNya, bergerak aktif untuk menjaga dunia ini tetap dinamis. Karena kita lupa, bencanapun menghampiri.

Kita tidak bisa mengontrol alam, saat ini hanya bisa mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita yang terkena bencana dan bersiap-siap terhadap keadaan bencana dimanapun kita berada.  Kemarin di jawa barat, hari ini di padang, esok dimana?