Sekarang ini masalah akan timbul jika listrik padam, berbeda dengan seratus tahun yang lalu tanpa listrikpun gerak di tingkat rumah tangga tidak mengalami efek yang berarti. Listrik bagi ibu rumah tangga menjadi barang wajib, mau masak nasi, mencuci pakaian, nyetrika, butuh air bersih, menyimpan bahan makanan di kulkas, semuanya disuplai oleh listrik. Jadi sudah tidak terbatas lagi hanya menjadi kendala di kantoran atau pabrik-pabrik. Karena itu ga jarang masyarakat sangat emosi jika terjadi pemadaman listrik.
Satu minggu belakangan di Ternate listrik mati memanjang sekitar 6 jam perhari, walaupun dibagi di beberapa zona yang berbeda. Dan PLN tidak bisa memberikan pelayanan publik yang baik saat pemadaman, dalam artian petugas penerima komplain bisa memberikan penjelasan yang menenangkan jika listrik padam. Alih-alih dapat pencerahan, malah tensi jadi naik dengar jawaban bodohnya.
Bagi saya pribadi yang mengalami pemadaman listrik di siang hari di waktu kerja, lumayan terganggu juga. Kami hanya bisa bekerja dengan kekuatan batre laptop yang rata-rata hanya 3 jam, ditambah kesulitan untuk print file, walhasil banyak bengong gila. Akhirnya setelah sempat nyemprot petugas PLN, kami pun pasrah untuk bekerja lembur. Sayang niat baik untuk bekerja sampai malam dihancurkan oleh PLN yang dengan tenangnya mematikan aliran listrik lagi mulai jam 7. Emosi naik sampai ke ubun-ubun, sumpah serapah pun keluar, dan terpaksa membawa pekerjaan pulang ke rumah. Tapi apa daya, sampai di rumah baru juga bersiap-siap untuk bekerja tiba giliran pemadaman, rasanya jadi pengen nampol orang deh.
Untuk area tempat tinggal saya puncaknya terjadi hari sabtu dimana listrik dipadamkan mulai jam 5 sore sampai tengah malam baru manyala. Ok, jika saya saja sudah terganggu dan pengen nampol orang, entah apalagi perasaan masyarakat kota ini yang cukup keras. Dugaan saya akan terjadi penimpukan ulang seperti yang terjadi saat pemadaman di bulan puasa duu. Daaaan……. tebakan saya benar sekali, berita hari minggu kantor PLN ditimpuk batu oleh masyarakat dari berbagai arah, bukan hanya kaca kantor, mobil dan motor yang ada di halamanpun menjadi korban.
Memang nimpukin PLN bukan tindakan yang baik, dan menimbulkan kerugian materi yang banyak. Tapi,… kenapahari ini di kantor listrik belum dapat pemadaman. Nah lo, masa’ sih mesti ditimpukin dulu baru berusaha? Walaupun benar bahwa alasan pemadaman itu karena mesinnya yang rusak, tapi apakah tidak ada petugas yang mengurus mesin. Dan kalau rusak, bikin planning yang bagus dong untuk perbaikannya. Jangan hanya memperbaiki yang rusak saja, tapi harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dan juga, daripada rusak-rusak terus, apakah tidak bisa investasi beli mesin baru gitu? dari pada ngeluarin biaya juga untuk reparasi? Betul-betul mengherankan kinerja sebuah perusahaan negara yang bernama Indonesia.
Sebenarnya mesin kan juga punya masa efektif kerja. Saat pertama membeli tentu sudah bikin perhitungan dong kapan akan memerlukan perbaikan, kapan akan perlu pembaruan, berapa kapasitas yang mampu ditanggung. Kalau ada planning yang bagus seperti itu dan petugas yang bertanggung jawab saya kira tidak akan terjadi krisis listrik seperti sekarang ini.
Makanya bapak-bapak di hrd/bag kepegawaian dll yg bekerja di pelayanan masyarakat, rekrut lah orang yang punya kemampuan dan ketrampilan, bukan sekedar kedekatan atau karena faktor-faktor lain. Kata hadist: Serahkan pada ahlinya, (jangan sama yang nyogok!). Suara masyarakat itu sadis lho, dan kalau sudah ditimpukin batu beberapa kali mestinya belajar gitu supaya masyarakatnya ga mau nimpukin lagi.
Dan walaupun tau tindakan penimpukan itu tidak bisa disetujui, kok saya merasa kejengkelan saya jadi sedikit berkurang, hehehehehe….