Tes kepribadian

Psikiatri/Psikologi telah menarik banyak ahli dari jaman dahulu kala sampai sekarang. Sudah bawaan manusia untuk tertarik pada misteri dirinya sendiri.  Carl Jung merupakan salah satu ahli di urusan mental, yang mengajukan teori tentang typology kepribadian manusia tapi kalah pamor dengan teori psychodinamic Freud. 2 orang ahli (ibu dan anak), melanjutkan teori kepribadian Jung dan bahkan mengembangkan tool yang menjadi dasar dari test kepribadian saat ini, terkenal dengan nama tes kepribadian Myers-Briggs, dan diadaptasi oleh banyak ahli di dunia Psikologi.

Karena saya tertarik dengan psikologi manusia, dan karena punya hobi aneh gemar melakukan refleksi diri, telah melakukan banyak tes psikologi online, seperti tes IQ dan tes lainnya, tapi tidak pernah melakukan personality test. Baru beberapa hari yang lalu saya melakukannya, tadinya untuk membantu saya mengerti dan membantu mencari solusi dari masalah pribadi saya. Hasil dari personality test membuat saya tercengang. Pas sekali dengan karakter saya. Banyak paradoks yang jarang sekali diketahui bahkan oleh teman-teman terdekat dengan saya terungkap disana dan diberi penjelasan kenapa bisa seperti itu.  Orang yang paling tahu siapa saya adalah  orangtua (tentunya) karena saya tampil polos di hadapan mereka, kecuali untuk urusan yang berkaitan dengan perasaan dengan lawan jenis. Tapi mereka jarang bisa merespon kebutuhan mental saya yang sebenarnya, karena kami beda karakter.

Bukan saya mau sok misterius atau sok lainnya, tapi saya tidak perlu menuliskan typologi saya. Yang jelas satu kelompok kepribadian yang paling sedikit ditemukan. Sedikitnya jumlah orang dengan karakter yang saya miliki, tidak berarti  kelompok kepribadian saya lebih baik atau lebih istimewa dari kepribadian lainnya (lebih unik mungkin, hihihi). Saya melakukannya untuk mengetahui karakteristik diri sendiri agar lebih bisa melakukan perbaikan terhadap sifat-sifat saya yang kurang baik, dan untuk mengenali pola berpikir saya yang sebenarnya.

Gara-gara typology karakter saya, ada paradoks yang bikin saya bingung sendiri: saya senang nge-blog tapi tidak tertarik dengan twitter dan chatting. Teman di FB saya jumlahnya juga amat sangat sedikit, FB saya ada dalam proteksi privacy tingkat tinggi, tidak bisa di search melalui search engine baik melalui nama saya maupun melalui account email saya. Satu-satunya cara untuk ter-link ke network saya hanya melalui add/invite friends. Tidak ada informasi pribadi saya pajang disana, jarang pasang status maupun menyapa teman-teman. (Sampai mikir “apa perlu saya delete aja ya account FB ini?” Tapi kemudian terpikir ini satu-satunya link paling mudah untuk teman-teman lama bisa menghubungi saya). Semua itu berasal dari sifat introvert saya yang kuat dan kebutuhan zona privacy yang luas.

Walaupun saya tidak suka dengan gaya kepemimpinan alm. pak Harto dan kebijakan yang dibuatnya selama berkuasa, tapi alm. pak Harto adalah contoh spektakuler dari orang yang membutuhkan zona privacy yang luas. Lihat aja gaya bersalamannya yang sangat formal dan mengambil jarak dari orang lain. Saya aja yang membutuhkan zona privacy yang jauh lebih luas dari kebanyakan orang, dan mengerti kebutuhan itu, masih terheran-heran dengan luasnya zona privacy alm. pak Harto. Orang pasti berpikir bahwa upaya protokoler istana untuk memberikan penghormatan (yang berlebihan), saya juga dulu mikir begitu. Tapi sekarang saya mikir, jangan-jangan itu berasal dari pak Harto sendiri dan bukan dari protokoler. Taruhan kalau dilakukan tes kepribadian pasti masuk kelompok INxx (walaupun saya ga pasti dengan 2 huruf belakangnya ada di kelompok mana).

Yang tertarik ingin tahu ada di kelompok kepribadian mana, google aja “personality test”, banyak yang gratisnya, sebaiknya ambil test dalam bahasa Inggris, karena lebih akurat. Dan lakukan test beberapa kali dengan waktu antara. Atau melakukan test yang berbeda-beda. Terus bandingkan hasilnya. Setelah hasilnya keluar baru baca penjelasannya supaya tidak bias.

Maaf kalau tulisan ini nyampah banget. Seperti saya tulis diatas kalau kita tahu akar yang penyebab masalah mungkin kita akan bisa lebih mudah mengatasinya.