Baca status dua orang teman yang punya bisnis online salah satu kosmetik membuat saya usil nulis postingan sampah ini. Pada dasarnya sih saya bukan orang yang suka urusan jual menjual. Bukan berarti enterprenership itu buruk, jauh dari itu, ekonomi makro suatu negara akan terdukung oleh ekonomi mikronya. Dan semakin banyak perempuan yang bisa menghasilkan uang dari bisnis kecilnya di rumah, akan semakin bagus karena membuat perempuan punya posisi tawar dalam rumah tangga.
Tapi yang membuat saya tidak suka dengan MLM, karena barang yang dijualnya tidak penting banget, over price pula karena sebagian keuntungannya diberikan kepada rantai member MLM. Semakin tinggi berada di dalam hierarki, pekerjaannya hanya mengendalikan rantai yang ada dibawahnya agar bekerja maksimal dan menghasilkan keuntungan. Karena itu statusnya selalu penuh inspirasi pada underlingnya untuk menjual lebih banyak. Dengan kata-kata penuh semangat, “Ayo kamu bisa mencapai sekian persen penjualan dari katalog baru, supaya naik kelas” atau diiming-imingi hadiah travel kesana, travel kesini. Analogynya mirip dengan kuda beban yang dimatanya digantungkan wortel, dia akan berlari secepat-cepatnya untuk mendapatkan wortel itu tapi tidak akan pernah bisa tercapai. Sesekali sih pemiliknya akan memberikan wortel supaya kuda bebannya tidak putus asa. Membuat saya muak dengan kata-kata inspirasi tapi MANIPULATIF itu…. palsu. Menyemangati orang untuk keuntungan diri sendiri.
Hal kedua yang tidak suka dari sistem MLM itu adalah permainan psikologisnya. Dalam posternya ada kata-kata yang menyiratkan empowerment. Kalimat yang menyiratkan mereka mampu, dan pilihan karir MLM ini lebih bermanfaat karena akan lebih bisa dekat dengan keluarga. Bukan berarti saya tidak setuju akan perempuan bisa menghasilkan uang tanpa keluar dari rumah, tapi caranya itu lho … dengan menggunakan trik psikologi menjerat target, yang memang diajarkan di pertemuan-pertemuan MLM (mereka menyebutnya seminar) dengan membayar pula. Member harus bayar lho untuk bisa menguasai trik psikologis ini. Pertemuannya tidak bayar karena hanya berisi kesaksian bagaimana mereka bisa sukses, ilmunya dijual lewat kaset (mungkin CD – kalau sekarang, yang lagi-lagi dengan harga berlipat).
Menggunakan trik psikologis dan kata-kata inspirational memang bukan dimiliki bisnis MLM saja. Semua bisnis memakainya. Saya hanya tidak suka dengan power dynamic bisnis MLM, member tidak diberi kesempatan untuk menggunakan personal powernya karena controlling power datang tiap hari, tiap jam, di semua media komunikasi. Mulai dari sms, telp, email sampai status FB, yang isinya mengejar-ngejar member untuk jualan-jualan-jualan, tapi dibalut dengan kata-kata manis semanis gula (pengalaman pribadi: pernah terjerat satu bisnis MLM mahal, tapi sayanya ga aktif jualan, dikejar-kejar sampai setahun lebih dan mendapat gelar “prospek”).
Menurut saya menjadi member bisnis MLM tidak 100% buruk. Tapi batasi waktunya, saat kita sudah menguasai semua trik bisnis, keluar dari sistem itu dan buat bisnis pribadi yang lebih jujur, yang barang jualannya lebih bermanfaat dari barang-barang MLM itu.
Dan pernah kepikiran ga sih buat mereka seperti apa kualitas kosmetik murah yang mereka jual? Contoh lipstick seperti produknya Cover Girl, yang termasuk murmer untuk US disinyalir mengandung Lead jauh lebih tinggi. Sedangkan keracunan lead itu sangat berbahaya untuk manusia. Apalagi dengan kosmetik murmer yang dijual oleh MLM teman saya. Saya meragukan kandungannya tidak berisi potential hazard.
Kedua: penting gitu untuk memasarkan kosmetik murah? Semurah-murahnya tetap membuat masyarakat terjebak dengan konsumerisme tingkat tinggi. Perempuan tukang belanja sering diejek, apalagi mereka yang beli barang branded. Apakah kalau yang dibeli harganya murah membuat shopaholic tidak sophaholic?
Dan percaya tidak kalau puncak-puncak piramid di kelas menengah diisi oleh perempuan-perempuan berpendidikan tinggi yang penuh motivasi dan passion untuk membantu sesama (tapi sebenarnya disesatkan oleh pemilik MLM untuk memperkaya pundi-pundi si pemilik MLM?).
Secara pribadi saya lebih suka dengan bisnis tradisional, yang tidak manipulatif, menjual barang sesuai dengan kebutuhan asli masyarakat, menjual barang tanpa keuntungan berlebihan. Memang sih jadi menentang arus, karena selama mainstraim bisnis di dunia dikuasai para konglomerasi yang menganggap “there is no limit” untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya, orang-orang pun akan melakukan kreatifitas, menggunakan berbagai cara untuk bisa survive di dunia ekonomi yang kejam itu.
Sebagai mahluk yang lebih percaya dengan sosialisme dibanding kapitalisme, saya berpendapat bahwa semua sumber daya (alam dan manusia) itu terbatas. Saat kita mengambil keuntungan berlebihan, neraca akan bergeser dari tengah ke satu sisi, karena pasti akan ada yang lebih dirugikan. Lihat aja ekonomi kapitalisme US hari ini, sebagai negara kaya di dunia mereka terjerat hutang yang mungkin akan memicu kolapsnya ekonomi dunia. Satu-satunya negara yang bisa dipinjami uang adalah China. Tapi pinjam uang ke China artinya akan terjadi pergeseran kekuatan politik. Dilema yang dihadapi US hari ini tidak enteng. Ga enak banget ya berada di posisi presiden Obama saat ini. Pusing kepala, siapa bilang jadi presiden negara adi daya itu enak?
Huahahaha… ini postingan curcol paling kacau. Terlalu banyak ide dalam satu postingan. Udahan ah… pisss (kata teman saya dari Bandung).