Nyalon alias pergi ke salon, bukan mencalonkan diri jadi balon, khukhukhu… Lagi mikir-mikir potong rambut apa tidak. Ga gampang untuk nyalon di negri paman Sam ini, mesti booking dulu, seperti mau ke dokter aja. Beda banget sama di Indonesia, tinggal nongol ke salon, nunggu beberapa menit, trus kres-kres gunting beraksi. Padahal kalau beli mobil, kata temen saya tinggal datang ke dealer, kalau cocok, beli dan bisa langsung bawa pulang. Sementara di Indonesia mesti nunggu beberapa hari kan, bahkan ada yang harus indent dulu. khukhukhu..
Ada juga sih salon yang tidak pakai perjanjian dulu, tapi jadi curiga, jangan-jangan asal gunting. Ogaaah… rambut saya agak ajaib, kalau dipotong pendek suka mumbul-mumbul ga jelas. Trauma karena pernah kepentok salon yang motong rambutnya ngasal, rambut saya jadi seperti sarang burung. Saya jadi lebih sering membiarkan rambut tetap panjang kalau ga ketemu salon yang bagus. Kalau ribet tinggal di pony-tail. Masalahnya saya suka malas cuci rambut, apalagi kalau cuaca dingin…. (Alasan). Jelas tidak sehat untuk rambut panjang saya.
Malas cuci rambut ini gara-gara salah asuhan waktu kecil. Entah siapa yang bikin peraturan, saya ga pernah potong rambut sejak kecil. Pertama kali potong rambut itu saat kelas 3 SMP, karena ikutan acara sekolah ke Jogja selama beberapa hari, acara pertama keluar kota sendirian.
Menurut hikayat orang tua, saat saya lahir kepalanya botak. Kekuatiran utama untuk nenek dan orangtua saya: “Cewek botak? … No way”. Dan konon segala macam reramuan alami dibalurkan ke kepala saya untuk menumbuhkan rambut. Usaha mereka berhasil, saya tumbuh besar dengan rambut tebal dan hitam (sebetulnya aneh juga kalau saya sampai ga punya rambut karena orangtua keduanya berambut tebal, almost impossible untuk mendapat gen botak). Dan sampai kelas 3 SMP itu, sebelum potong rambut, saya tidak pernah nyisir atau nyuci rambut sendiri, kekekeke (memalukan). Berasa jadi tokoh “Rapunzel” deh, yang ga pernah potong rambut seumur hidupnya, dikurung di tower dan baru bisa bebas setelah ada ksatria yang menolongnya dengan memakai bantuan rambut panjangnya.
Setelah dipotong pendek, barulah saya merawat rambut sendiri. Kecanduan salon setelah bekerja, kadang kalau malas cuci rambutnya kumat, saya tinggal datang ke salon dan minta di creambath. Keliatan kan akibat dari salah asuhnya? Emang sih di Ternate saya juga ga bisa ke salon, tapi paling tidak kalau lagi punya uang lebih, saya weekend di Jakarta dan nyalon. Hihihihi, pulang ke Ternate dengan rambut pendek yang lebih mudah diurus. Apalagi karena suhunya panas, bikin saya rajin cuci rambut. Nah kalau di udara dingin, kumat malasnya, dengan alasan belum bau, ga keringetan, cuci rambut bisa diperpanjang sampai 3 hari sekali. Untung ga punya ketombe.
Makanya saya bisa paham kenapa kucing suka ngamuk-ngamuk kalau kecebur air… Iya saya tahu, saya manusia dan bukan kucing. Iya …. ini juga udah siap-siap mau cuci rambut kok… Ciao!