Nyaris semua mata kuliah yang saya ambil selama 4 semester ini tidak ada yang bersentuhan langsung dengan masyarakat nyata, padahal nama sekolahnya Public Health, lebih parahnya jurusan yang saya ambil adalah Community and Health Department. Yang kami lakukan adalah membuat paper, baca jurnal, analisa data, debat teori di kelas. Yang paling nyata sih praktikum musim panas saya. Baru nyadar hari ini kalau saya benar-benar berada di menara gading.
Di semester terakhir ini saya mengambil kelas Riset Partisipatif, istilah kerennya CBPAR (Community Based Participatory Action Research). Pendekatan yang sedang trend di dunia kesehatan masyarakat di US, dan semua study menunjukkan kalau pendekatan ini sangat menjanjikan untuk proyek perubahan perilaku. Padahal metoda yang dipakainya berbasis PRA (Participatory Rapid Appraisal). Tapi walaupun saya sudah kenal tehnik PRA , kelas ini tetap harus diambil, karena merupakan mata kuliah wajib buat jurusan saya. Kecuali saya ga mau dapat ijasah
.
Dari awal saya udah ngomel-ngomel sebenarnya, karena beban tugasnya luar biasa untuk kelas dengan 2 SKS. Karena kami mesti datang ke masyarakat, keluar dari kelas, dalam kerja kelompok sementara jadwal anggota kelompok sulit disinkronkan. Friksi dan konflik di dalam group tidak terhindarkan lagi, yang membuat saya makin tidak nyaman. Hanya saja mikir, ga malu apa, umur udah banyak tapi ga bisa menyelesaikan masalah internal. Tambahan lagi gengsi jatoh dong kalau tidak bisa memfasilitasi masalah ini. Untunglah terjadi progres hari ini, setelah puncak krisis lewat.
Dan hari ini adalah hari penting untuk group kami, pertama kali berinteraksi dengan masyarakat untuk proyek ini. Entah kenapa dari pagi mata ini kok berat banget, ngantuk luar biasa, ga bisa mikir. Dengan rasa ga jelas, kamipun pergi melintas downtown Atlanta menuju ke bagian kota yang ditempati masyarakat yang kurang beruntung.
Padahal saya sudah pamit dari kelas lebih awal, gara-gara GPS ga jelas kami tetap terlambat sampai di venue. Untungnya satu teman saya bisa datang pas waktu. Kami berhasil menarik 5 orang untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Dan sebuah sensasi familiar yang selalu saya rasakan saat datang ke masyarakat, terasa lagi. Masyarakat sebenarnya sangat senang kalau ada yang mau mendengarkan mereka. Terlalu dini untuk merayakan keberhasilan, karena proses ini baru dimulai, antusiasme masih tinggi, beberapa pertemuan ke depan tetap ada resiko terjadi konflik dan krisis. Biasalah dinamisasi kelompok. Apalagi ini dengan masyarakat. Tapi kami sudah mulai satu langkah, harus diikuti oleh langkah lainnya. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih mulus lagi langkahnya.