Museum Pop Culture

Kalau mendengar kata “museum” di Indonesia selalu terkait dengan barang-barang berdebu dan diorama yang seadanya. Diminta bayar untuk masuk museum, pasti membuat museum tambah sepi pengunjung. Padahal image museum seharusnya tidak begitu. Atlanta adalah kota tempat asalnya minuman ringan Coca Cola, jadi wajarlah kalau ada museumnya disini. Uni tempat saya sekolah menerima sumbangan tidak sedikit dari pemilik pertama pabrik minuman ringan, dan namanya diabadikan di berbagai bangunan termasuk perpustakaan utama. Tentu saja namanya bukan Coca Cola Library tapi Woodroof, nama orangnya bukan brand-nya.

Museumnya sendiri baru saya kunjungi beberapa saat yang lalu. Kalau bukan karena dikunjungi sahabat saya, kayaknya saya ga bakalan mampir ke situ. Tadinya saya pikir ga masuk akal aja untuk ngeliat bagaimana A-Z nya si minuman ringan ini. Ternyata bisa menghasilkan uang sampingan lho, karena turis yang mampir buanyak banget, untuk masuk aja perlu ngantri sampai 30 menitan. Padahal di Kompleks museum Smithsonian ga seperti ini.

Begitu masuk, kita sudah disuguhi pemandangan dari berbagai lambang si minuman ringan ini, sebelum digiring untuk nonton film animasi singkat yang menjual brand ini.  Bagus sih animasinya, tapi ga berkesan, hehehe… maklum saya pecinta teh, bukan minuman soda.

Dari berbagai pajangan saya tertarik dengan lukisan mural dan kreatifitas yang dibuat dari kaleng minuman soda ini.

Dan salah satu tempat yang full pengunjung adalah tasting berbagai varian minuman ringan dari berbagai penjuru dunia yang berada di bawah naungan pabrik ini. Belum apa-apa botol-botol sudah antri di atas kepala. Setiap pengunjung mendapatkan sebotol minuman ringan ini yang gratis.

Beberapa display yang menarik adalah botol-botol dari berbagai era dan mobil pertama yang dipakai untuk distribusi minuman ringan ini.

Tidak lupa ada display proses pembuatannya:

Jadi, museum itu tidak perlu selalu berisi fosil ga jelas. Yang penting sebenarnya kurator yang bisa memberikan cerita menarik dari setiap benda yang dipajang daripada hanya tergeletak di kotak kaca.

Festival

Walaupun hanya di tingkatan neighborhood, tapi Inman Park Festival dilakukan tiap tahun. Dananya dikelola oleh penduduk, dan mereka berhasil mengundang orang untuk jualan (saya rasa pasti bayar sewa tempat juga). Diselenggarakan hari Sabtu-Minggu di akhir bulan April lalu. Saya pergi bersama teman saya yang memang rumahnya di wilayah situ, nonton parade, hehehe. Matahari saat itu sangat mendukung, cerah, tanpa awan sedikitpun, udah ga berasa musim semi, tapi serasa musim panas aja. Padahal dari hari Senin sampai Kamis suhu sempat ngedrop, dasar kota moody.

Stand-nya jualan bukan hanya untuk manusia, tapi untuk mahluk-mahluk halus kaki empat yang menjadi kesayangan penduduknya. Sehingga ada stand yang jualan kue tapi buat … aaanjiiiinggg! hehe

Pertamanya sempat bingung liat mangkok-mangkok stainless steel ini. Buat apaan? Kobokan? Tempat sayur? Tempat pup? hihihi… ternyata masih buat si guguk juga, tempat minumnya yang ditaroh di rak kayu handmade, supaya guguk nyaman nenggak bir air. Ngeliat pajangan kue-kue handmade buat guguk sempat ngences juga, sialan, kok kayaknya enak.

Di level Atlanta, festival ini termasuk padat pengunjung, walaupun belum bisa mengalahkan padatnya gasibu tiap hari Sabtu dan Minggu yang saking padatnya membuat orang aja ga bisa jalan. Padahal barang yang dijualnya biasa-biasa aja ga ada yang special. Cuma barang jualannnya memang banyak yang hand made, jadi bukan buatan pabrik (katanya) maka harganya jauh lebih mahal. Dan salah satu stand memasang payung bertingkat dari Bali, jadi curiga jangan-jangan yang buka stand itu orang Indonesia.

Tentu saja yang membuat saya tertarik nongkrong adalah paradenya. Banyak yang lucu dan unik kostumnya.

Karena daerahnya merupakan daerah lama, jadi banyak juga rumah dengan arsitektur antik. Dan beberapa rumah itu open house, siapa saja bisa melihat ke dalamnya, salah satunya seperti ini:

Sempat juga kepengen beli selai, tapi terus ingat tinggal bentar lagi udah balik, takut ga abis, akhirnya saya cuma ngambil fotonya aja:

Parfum Alami

Atlanta dan counties di sekitarnya seperti sedang memakai parfum minggu ini. Bau manis menerpa hidung saat kita berjalan melewati pepohonan yang teduh. Apa ada orang iseng menyemprotkan parfum? Ga kebayang perlu berapa botol. Pohon berdaun hijau, berbunga putih sebesar mangkok, yang tidak saya tahu namanya sedang berbunga di seputaran sini. Seorang teman menebaknya bunga magnolia, tapi saya belum googling sih, jadi ga tahu. Kebetulan di depan apartment saya banyak ditanam pohon ini. Karena tempat saya di lantai ke tiga tentu dengan mudah bisa memfotonya. Putiknya saja sudah sekitar 7-10 cm,

Kemudian akan mekar menjadi seperti ini

Lebih dekat lagi

Setelah helai demi helai jatuh tinggallah intinya

Apapun namanya terimakasih bunga putih, telah memberikan wangi semerbak yang manis sebelum saya pergi dari kota ini.