Long Weekend

Weekend ini jadi long week end karena ada hari pahlawan di Amrik, the Memorial Day. Tahun lalu saya ada di DC. Ga terasa banget waktu berlalu begitu cepat. Di Atlanta ada festival jazz tahunan, keliatannya sih bakal seperti JakJazz, tapi gratisssss! Dan rutin diselenggarakan di Piedmont Park. Yihiii… sebelum pulang ada event. So bawa kamera dan kain alas buat duduk di rumput.

Murah meriah karena hanya keluar transportasi $5 pp, kebetulan ada bis yang lewat jalur itu. Resiko lainnya hanya gosong karena suhu diprediksi akan lebih dari 90F. Huwaa… tapi biarlah gosong asal bisa nonton. Mesti beli sunscreen nih, bekal air yang banyak juga.

Mudah-mudahan banyak moment bagus buat diabadikan, udah kangen motret, tapi malas kalau motret bunga melulu.

Ups and Downs

Hari-hari di bulan April terasa seperti naik Roller Coaster: mood maupun percaya diri saya. Sampai tanggal 23, adrenalin dalam tubuh saya dipacu kencang, tidur hanya empat jam sehari, membaca dan membaca dan membaca semua materi, memastikan semua kegiatan sinkron dengan jadwal menulis thesis, dan orang-orang bertanya kenapa saya begitu stress saat nulis thesis, sementara orang lain santai-santai aja. Dan saya tidak bisa menjawab kenapa.

Mungkin karena confidence saya terpatahkan saat draft tulisan pertama literatur reviewnya dikritik habis advisor. Dan saya harus menulis ulang literatur review itu. Sementara rekan-rekan sekelas lain sepertinya tidak ada yang mengalami masalah yang sama. Baru belakangan setelah stress kian meningkat, rekan-rekan sekelaspun mulai saling terbuka dengan masalah penulisan thesis. Padahal bahasa Inggris adalah bahasa asli mereka. Tapi untung juga sih saya baru tahunya belakangan, karena kalau tau dari awal saya akan nyantai, karena tau banyak yang bermasalah juga. Sementara kalau kita sadar hanya diri sendiri yang bermasalah dan berpotensi menjadi mahasiswa terbodoh di kelas, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki nilai.

Hal kedua yang bikin saya tidak percaya diri adalah penilaian praktek kerja lapangan summer tahun lalu, karena organisasinya seperti cuek aja setelah kami memberikan laporan. Bilang laporannya bagus, tapi terkesan basa basi. Kebiasaan orang Amrik dalam memuji setara dengan kemampuan orang Indonesia dalam mengkritik. Dalam artian orang Amrik selalu melihat sisi positif sampai kadang melupakan sisi negatif, terbalik dengan orang Indonesia selalu melihat sisi negatif sampai lupa memuji sisi positif. Jadi rasanya lega sekali saat mereka bilang laporan kami dipakai sebagai salah satu referensi laporan mereka, bahkan ditawarkan untuk dipresentasikan di salah satu konferensi, aah… senang mendengarnya.

Untuk thesis setelah selesai advisor saya bilang well done, yang mana tidak begitu saya percayai, benar-benar well done atau hanya untuk memupuk percaya diri saya saja?

Dan akhirnya submit thesis itu secara online tepat waktu. Ada dua orang mahasiswa yang baru submit tepat disaat deadline. Hua…! Lega! Terus berasa kosong, dan tidak punya goal, karena sekarang waktunya untuk mencari pekerjaan… aah…! Tiba saatnya meninggalkan menara gading ini dan kembali ke kehidupan normal. Ga lagi dikejar-kejar deadline tugas. Memperbaiki CV saya dengan menambahkan thesis dan laporan praktek lapangan didalamnya. Ga nyangka!

LIPI di Indonesia mesti diubah nih, disini relatif gampang kalau mau publish tulisan ilmiah, bahkan thesis dan laporan praktek lapangan dihargai sebagai tulisan ilmiah dan dilindungi hak ciptanya. Jurnal-jurnal bertebaran dimana-mana dan karena itu memacu orang untuk menulis (ga cuma ngomong tok). Tentu saja sebelum dipublish kita akan menerima kritik dari banyak orang yang membacanya, jadi harus siap mental menerima kritik dan memperbaikinya. Seperti draft literatur review pertama yang dicorat-coret habis oleh advisor saya, setelah dirombak total akhirnya bisa diterima.

Hal yang paling saya suka dari pendidikan di Amerika adalah menuntut kemampuan menulis tingkat tinggi. Beuuh, saya baru sadar kalau kemampuan memahami reading membantu banget untuk mendapatkan skill menulis. Karena membuat formulasi apa yang ingin kita sampaikan atau membuat alur logika yang smooth tidak secara otomatis dimiliki orang. Grammar saya mungkin kacrut, tapi logika saya lumayan bagus, makanya banyak paper saya mendapat nilai tinggi. Saya suka kaget kalau melihat mendapat nilai bagus dalam menulis paper, belakangan baru tahu, mahasiswa Amerika yang ga bermasalah dengan bahasa Inggris, malah kesulitan dalam memformulasikan masalah dan memberikan solusi. Yeah… manusia tidak sempurna!

Yeah, sebentar lagi saya akan balik ke tanah air, waktu berlalu begitu cepatnya. Maaf kalau saya ga pernah berasa kangen dengan tanah air, karena saya terlalu sibuk dengan study. Kalau otak saya muter dengan cepat, memang suka lupa dengan sekeliling.

 

Senang Bunga, Malas Berkebun

Saya senang dengan bunga, tapi jangan ajak saya berkebun dan tidak perlu memberi saya buket. Kegiatan yang saya suka untuk menikmati bunga adalah menikmati berbagai botanical garden. Tapi kadang di rumah orang di jalan bisa ketemu bunga yang indah. Kecuali melati, saya tidak pernah ingin memetik bunga itu, menatapnya di pohon atau rumpun dan memfotonya merupakan kesenangan tersendiri.

Kadang suka merasa bersalah karena ingin menikmati sesuatu yang indah tanpa berusaha. Tapi gimana lagi ya, terlalu banyak faktor yang membuat berkebun sangat tidak menarik. Untuk berkebun biasanya dilakukan saat ada matahari kan? Dan banjir keringat dipanggang matahari bukan pilihan yang saya suka. Ditambah lagi, tanah akan masuk ke sela-sela kuku… duh, ga bakalan tahan. Dan terakhir apa lagi kalau bukan bolak-balik menyiramnya. Kegiatan yang terlalu banyak membuang energi bukan kegiatan yang cocok untuk saya…hihihi.

Bunga yang paling menarik untuk saya justru bunga-bunga sederhana di pinggir jalan. Walaupun penampilannya tidak seglamour bunga lili atau mawar yang merah darah, saat diamati lebih dekat dari lensa makro, struktur di dalamnya tidak kalah rumit dengan struktur bunga-bunga glamour. Karena itu sama seperti kita tidak boleh mendiskriminasi manusia, sebaiknya juga jangan mendiskriminasi bunga. Bunga yang paling sederhanapun tetap punya keindahan tersendiri.